Literasi Digital Cegah Radikalisme dan Terorisme


Berdasar riset dunia. digital adalah fasilitas yang dapat digunakan untuk menebarkan tuntunan bau radikalisme serta terorisme. Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ditengara yang sangat intensif memakai pendayagunaan dunia digital dibandingkan Jamaah Islamiyah.

Benar-benar, nampaknya pendayagunaannya bisa dikontrol dengan usaha penegakan hukum yang dikakukan pemerintahan Indonesia dengan tindak tegas aktor penyebar content bau radikalisme serta terorisme.

Perananonaris Partai Golkar Kabupaten Jember Nanang Sugiyanto memiliki pendapat jumlahnya bersebaran content hoax, fake news, serta ajaran kedengkian di medium online memperlihatkan jika dunia digital memang jadi fasilitas yang mudah menebarkan tuntunan secara cepat

“Penangkalannya dengan literasi digital. Literasi itu sesungguhnya bagaimana kita pahami content medium. Jadi ini lebih ke pribadi. Sayang literasi medium bikin kita kurang. Walau sebenarnya, orang yang bisa membaca medium bikin, ia biasa menyaksikan content yang panjang serta memikir, di medium digital saat ini itu tulisannya singkat-singkat,” kata Nanggi.

“Aktor bisa bukan hanya membuat content, dan juga bekerja di sosial media serta kotak kometar dalam berita-berita di medium online,” kata Nanggi.

Nanggi memperjelas pentingnya perlakuan, khususnya Indonesia sedang hadapi pemilihan kepala daerah serempak tahun 2020, dan penyiapan ke arah pemilihan presiden serta pillleg serempak tahun 2024.

Menyelinapnya radikalisme, kata Nanggi lewat pendayagunaan digital telah memasuki ke beberapa universitas. Menyitir hasil analisis Tubuh Nasional Pengendalian Terorisme (BNPT), minimal ada 7 universitas yang terkena radikalisme untuk 2018. Satu tahun berlalu, Sama dengan Institute mengeluarkan 10 universitas yang dimasuki memahami radikal.

Kampus-kampus itu diantaranya Kampus Indonesia, Institut Tehnologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Kampus Brawijaya, Kampus Diponegoro, serta Kampus Gajah Mada.

Bukti-bukti sekitar radikalisme di universitas untuk 2019, Sama dengan Institute mendapati ada 10 universitas yang terkena memahami radikal.

Analisis BNPT serta Sama dengan Institute seakan mengaminkan hasil survey yang dikeluarkan Alvara Research Center untuk 2017. Saat itu, Alvara mendapati sekitar 17,8% mahasiswa memberikan dukungan pendirian khilafah seperti digotong Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Walau demikian, Nanggi merekomendasikan universitas tidak terlalu berlebih dalam menanggapi keadaan.

“Semakin lebih baik bila faksi universitas selalu melepaskan pembicaraan di antara pertimbangan di balkon ceramah,” keras Nanggi.

Dima Akhyar SH, bekas Ketua Panwaskab Jember lebih. Menyimak angkatan muda yang datanya. Memperlihatkan barisan usia ini gampang diambil dalam tindak terorisme.

Kata Dima anak muda sangat dekat dengan dunia digital, hingga dilihat. Perlu perhatian spesial, misalkan dengan mengadakan beberapa aktivitas. Inovatif untuk angkatan muda, terhitung didalamnya pemantauan pada bidang pengajaran, mulai taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

“Karena itu guru selaku pengajar menggenggam peranan penting yang bisa mengajar ke anak – anak mengenai materi yang dapat menahan perkembangan doktrin bau radikal. Bagaimana juga, guru adalah anutan anak anak,” terangnya.

error: Content is protected !!