Gelisah Saat Kuota Internet Menipis

Saya benar-benar bernilai. di sosial media. Saya terus resah jika paket internet telah tipis. jika tidak dihargai lewat like serta komentar dari netizen di medium sosialku.

Sesudah tidak aktif di sosial media, saya sadar jika saya hanya manusia kesepian. Saya berasa sepi sebab setengah jiwaku telah tercemar dengan zat adiktif sosial media.

Saya habiskan setengah jiwaku cuman untuk cari pernyataan harga diri di sosial media. Karena saya berasa tidak bernilai di dunia riil. Barang kali saya kekurangan kasih serta sayang dari orangtua pada saat masih kecil. Jadi, tempat kebahagiaanku cuman berada di dunia sosial media. Sebab lewat sosial media saya benar-benar populer.

Minggu (25/10/2020), jam 23.30 WIB, saya terjerat antara 2 opsi. Opsi yang pertama kali ialah saya pengin stop dari sosial media. Opsi ke-2 ialah saya akan kehilangan harga diri. Kembali lagi saya masalah untuk pilih. Sebab jumlah pertemananku banyak. Sayang jika saya pisah dengan kawan-kawan sekaligus.

Ini hari saya membuat riwayat, sekarang ini juga saya menuliskan. Besok saya akan berceritanya ke teman dekat sekaligus lewat posisi sosial mediaku. Agar nampak bagus serta update kebahagiaan semu.

Sosial media ialah rumah gesturku tiada batasan. Lewat sosial media saya ada untuk memikir. Benar-benar umumnya memikir itu benar-benar bikin rugi psikisku. Tetapi, kira-kira lewat pemikiran saya menjahit tiap tetes aksara rasa resah yang disimpan di arsip jantungku.

Sosial media ialah teman dekat saya untuk melepas keluhanku akan ketidakadilan yang berlangsung di lingkungan bangsaku. Lewat sosial media saya rasa suaraku didengar lewat tiap tulisanku. Walau saya tahu dengan penuh kesadaran jika saya hanya manusia kesepian di dunia riil.

Hidup di era gila/edan tehnologi sudah jadikan diriku ikut juga gila. Lebih bagus hidup gila dibanding hidup waras di dunia riil. Karena itu saya terus resah waktu paket internetku tipis. Sebab saya akan kehilangan informasi sekitar kehidupan, baik dalam negeri atau dari luar negeri. Saya akan kehilangan sumber nutrisi ide untuk otakku. Sebab hidup tidak cuma kasus perut, tetapi otak perlu digemukin dengan tersedianya bahan bacaan yang gampang dijangkau di mana juga lewat sosial media.

error: Content is protected !!