Sahabat Interkultural dalam hidup


Transisi waktu sudah. Manusia hidup dalam 2 dimensi, yakni dimensi jelas serta dimensi gelap. Dimensi kelahiran serta kematian. Manusia tidak sempat pilih keluarga, tempat serta negara di mana dia dilahirkan. Yang paling penting untuk manusia ialah menghargakan makna serta arti kehidupan

Teman dekat ialah orang yang mengenali segala hal mengenai kamu serta selalu mencintaimu. Cerita pertemanan saya telah terikat 6 tahun lalu.

Bermula dari 1 arah untuk jalani kehidupan membiara di Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD), persisnya di Postulat Stella Maris Malang, Novisiat Abdi Roh Kudus, Batu – Malang serta Seminari Tinggi SVD Surya Wawasan Malang.

Saya bertemu serta membuat rasa persaudaraan bersama teman dekat yang lain budaya, bahasa, watak, langkah pandang, background pengajaran, keluarga dan lain-lain.

Pasti, awalannya saya berasa kesusahan untuk membuat cerita pertemanan sama mereka. Mahfum kita ialah beberapa kumpulan beberapa bujangan yang terus menyaksikan suatu hal dengan nalar.

Mengakibatkan, sering berlangsung bentrokan opini. Saya mengaku jika benar-benar susah untuk kenal seseorang. Sebab apa yang kita kehendaki, belum pasti sepaham, searah sama orang lain.

Transisi waktu sudah temani saya untuk selalu meredam ego dalam membuat tembok pertemanan. Sesudah tiga tahun saya berusaha untuk membuat rasa persaudaraan dengan sama-sama, pada akhirnya berbuah hasil. Sebab pertemuan yang intensif sudah melahirkan teman dekat.

Cerita persahatan saya dengan ke-2 rekan saya yang dari Bali serta Sumatera makin solid dalam segalanya. Kami bertiga sama-sama pahami, meredam ego tidak untuk memantau 1 dengan yang lain.

Kami mulai membuat rasa empati. Di mana jalan untuk meningkatkan rasa empati antara kami ialah lewat share, dialog, sharing, makan bersama, kongkow, sepedaan, berenang, bermain kartu, futsal, tenis meja, badminton, bercocok tanam, tonton bioskop, sama-sama berkunjung di kamar, share camilan, hotspot bersama, ketawa bersama atau menangis bersama. Bahkan juga bunyi kentut serta wewangiannya kami bertiga sudah tahu. Berikut kekonyolan kami bertiga.

Tetapi, perpisahan itu tiba tiada diundang. Awalnya tahun 2019 lalu, saya memilih untuk keluar dari kehidupan membiara dalam adat Katolik. Rasa-rasanya berat buat saya pisah dengan teman dekatku. Tetapi, benar-benar jalan panggilan tiap orang itu berlainan. Saya tidak dapat menantang hukum semesta.

Tiap detik, menit, jam, bulan serta tahun mempunyai masa lalu. Satu diantara masa lalu paling indah saya bersama teman dekat ialah saya terus mengikut hari budaya Bali serta Batak yang dipentaskan oleh teman dekatku. Demikian juga, mereka terus mengikut hari budaya Timor. Bahkan juga saya sampai dapat menari tarian ‘Tortor’ budaya Batak. Saya berasa senang dengan cerita pertemanan interkultural yang sudah kami bangun di Seminari.

error: Content is protected !!