Tidak Malu Memperkenalkan Diri, Kakakku Sukses Jadi Tukang Roti

Sesudah menikah dengan. seorang arsitektur bangunan yang luntang-lantung di tahun 2011, kehidupan ekonomi keluarga kakak saya benar-benar memprihatinkan. Unsur ini jugalah yang membuat mereka harus terpaksa tinggal seatap dengan orang-tua. Walau begitu, orang-tua saya tidak ingin menganakemaskan mereka. Masalah kepentingan perut, upayakan sendiri. Karena itu, setiap waktu mereka beradu mulut sama-sama menyalahkan sebab tidak paham harus makan apa.

Satu waktu, suami kakak pinjam uang sekitar Rp. 10.000 ke ibu saya. Uang sebesar itu dipakai selaku ongkos transportasi ke kota untuk cari pekerjaan. Dia pengin jadi sopir. Sesudah mondar-mandir di kota, dia berjumpa dengan seorang dokter yang kebenaran memerlukan sopir individu. Hari itu dia diterima serta jadi sopir individu sang dokter itu.

Di sore harinya, suami kakak kembali pada rumah dengan bawa gaji sehari kerja sekitar Rp. 100.000. Terima uang sekitar itu, apa lagi baru jadi sopir satu hari, kakak tidak yakin serta justru memikir negatif, “jangan-jangan sang suami mengambil”. Sesudah dengarkan keterangan si suami, kakak pahami serta terima uang itu dengan penuh haru, sekalian teteskan air mata dn mengucapkan syukur ke Tuhan.

Sesudah dua tahun bekerja jadi sopir individu sang dokter serta mendapatkan modal yang cukup buat berdikari, suami kakak memundurkan diri. Dia ingin jadi tukang roti. Semua peralatanpun disiapkan secara baik, lalu mereka berusaha bersama meniti usaha baru itu.

Tiap malam, mereka mempersiapkan adonan roti yang lumayan banyak serta bermacam. Ada yang dibikin jadi roti panggang, ada yang untuk jadi selaku roti goreng, serta ada pula yang dibikin jadi roti kukus. Mereka lakukan pekerjaan ini sampai pagi hari.

Saat pagi sampai sore harinya, mereka berdua menawarkannya, baik ke masyarakat daerah sendiri atau ke masyarakat kampung-kampung tetangga. Sebelumnya, pekerjaan ini dilaksanakan dengan berjalan kaki. Setiap saat berjumpa dengan beberapa konsumen, mereka tidak malu untuk mengenalkan diri selaku tukang roti. Tidak lupa mereka memberi pesan jika jika perlu roti, silakan tiba ke rumah (sekalian menyebutkan alamat rumah orang-tua). Ke perkumpulan-perkumpulan apa saja yang berada di daerah, mereka tidak malu mengenalkan diri selaku tukang roti.

Trick di atas kelihatannya cukup sukses. Keinginan roti lagi bertambah. Sampai pada akhirnya mereka memilih untuk cari sebagian orang ibu untuk menolong. Untuk menawarkannyapun harus ditambahkan personel. Karena itu, dicarilah sebagian orang anak lelaki yang putus sekolah untuk menolong mereka. Mereka-mereka itu, berjalan dari daerah ke daerah dengan bawa bermacam roti di tempat semasing serta menawarkannya ke warga. Sekarang kakakku berhasil jadi tukang roti.

error: Content is protected !!