Epistemologi Kant dan Relevansinya bagi Masyarakat Indonesia

Saya capek berjalan. Banalitas kehidupan kota Metropolitan makin mengambil kemerdekaanku. Tuhan ajarilah saya untuk berbicara cukup. Sebab saya lelah. Saya lelah pikirkan periode depanku. Saya malu serta kurang percaya diri dengan perolehan seseorang. Makin banyak gagasan, saya makin capek. Karena itu, ajarilah saya Tuhan untuk berbicara,’cukup.’

Setapak untuk setapak saya mengambil langkah, seperti si musafir dari negeri Timur Sedang dalam menyelusuri gurun pasir. Saya lagi mengambil langkah untuk cari ketenangan. Makin saya mengambil langkah, saya tidak mendapati kenyamanan. Tuhan saya lelah!

Saya capek berjalan, sambil saya nikmati cantiknya dunia kedap-kedip kota Metropolitan. Saat kangen panggil saya masalah. Masalah di antara karier, percintaan serta kemasyhuran periode laluku. Tuhan saya lelah memakai nalar. Saya berasa nalar tidak dapat mengakhiri seluruh kasusku. Karena itu, ajarilah saya untuk berbicara cukup.

Tuhan saya malu serta kurang percaya diri dengan karier serta percintaan orang yang lain keliatannya benar-benar serasi. Saya ingin nikmati kenyamanan itu. Tetapi, logikaku tidak searah dengan kenyataan. Sebab kenyataan terus bertentangan dengan mimpi. Sendainya keberhasilan itu ibarat satu cerpen, karena itu saya telah mencapainya. Tetapi,,,,,,, saya makin terjerat antara semua gairah untuk kuasai seseorang. Semuanya, saya kerjakan cuman untuk cari kenyamanan.

Tuhan saya perlu kontribusi-Mu waktu saya alami permasalahan. Tetapi, saya jadi ateis waktu saya tidak memiliki permasalahan. Tuhan saya tidak pantas untuk nikmati hidup.

Tuhan saya akhiri keluh kesahku di tengah-tengah dinginnya malam kota Metropolitan Jakarta. Sebab saya tidak dapat berbicara kembali.

error: Content is protected !!