Ia yang Menerobos Hujan


Kemungkinan benar ada. macam wanita dengan fantasi yang ganjil. Kemungkinan Rara diantaranya. Kepadaku satu hari dia berbicara, “kubayangkan seorang lelaki lari menerobos hujan deras ke arah rumahku. Dia lalu tempelkan kertas berisi puisi cinta bagiku di pintu…”

Dia stop sesaat. Matanya jauh melihat bentangan sawah dari muka rumahku, tembus hujan tipis pada sore itu.

“Akan kuterima cintanya…”

Matanya lalu berpindah menatapku. Sendu. Saya terkikik, lalu terbahak-bahak. Ia tentu sedang bergurau. Manalah kemungkinan ada wanita segila itu. Tetapi Rara bersungut. Matanya yang Pakistan sedikit membelalak. Cantik. Mengagumkan cantik.

Rara rekan belajarku. Satu kali dia ngomong, “kita belajar bersama, ya. Saya tidak dapat matematika.” Kuiyakan. Beberapa rekan turut tergabung setelah itu. Terkadang kami belajar dalam rumahku, rumah Rara, atau di dalam rumah rekan lainnya. Berganti-gantian. Tetapi perilaku anak sekolah menengah atas: belajar 1/2 jam, bercakap tidak pasti arah 1 jam. Percakapan tidak pasti yang membuat kami jadi semakin lebih mengenal keduanya. Saya jadi tahu apa olahraga favoritnya, makanan kegemaran, jenis film serta beberapa macam hal sehari-harinya lain. Kuceritakan juga padanya mengenai kegemaranku untuk bunga-bunga liar, untuk kupu-kupu. Iapun jadi tahu minatku yang tinggi ke sastra, terutamanya puisi, walaupun saya tidak pengin nantinya jadi penyair. Saya cuman pengin untuk selalu menulis puisi. Ada seringkali kutunjukkan puisiku padanya, atas desakannya.

“Umumnya murung, ya?” Dia memberi tanggapan.

“Benar-benar hidupmu murung demikian?”

Saya ketawa kecil serta menggelengkan kepala. Kujelaskan padanya jika selama ini hidupku membahagiakan, serta saya berbahagia. Cuman, saya senang memfoto kemurungan. Buatku kemurungan ialah cermin yang jernih untuk berkaca. Merenung. Dia terang-terangan, jika dia tidak memahami. Saya ketawa kembali. Ya, benar-benar susah untuk diterangkan.

“Sesekali, catat puisi yang bahagia, ya?”

Hei, nantikan. Puisi! Mungkinkah Rara sedang mengirim sinyal kepadaku? Tidak terpikir olehku. Itu karena dia bersungut serta membelalak kemarin? Tetapi mengapa juga perlu kupikirkan?

Anak muda sehat wal afiat pasti terpikat untuk Rara. Badannya langsing, rambutnya panjang sepinggang. Ya, sepinggang! Gurat Timur tengah, Pakistan, atau seperti itu, tergambar kuat di mukanya. Saya sehat, tentunya. Namun, bagaimana menggambarkannya? Rara itu cantik. Cuman, buatku dia jenis lukisan berkualitas tinggi yang cuman bisa kunikmati dari terlalu jauh. Tidak sedetikpun terpikirkan olehku untuk usaha menarik hatinya, jadi pacarnya, lalu nantinya jadi suaminya. Tidak. Jadi, angan-angan mengenai lelaki yang menerobos hujan itu betul-betul kuanggap selaku gurau. Gurau yang selekasnya kulupakan.

error: Content is protected !!