Berkat dari Krisis

Satu waktu diperjalanan. panggilan saya pernah merasakan yang bernama kritis panggilan. Saya ucapkan kritis sebab untuk waktu itu bermacam problema hidup mendekati saya. Serta untuk waktu itu kemungkinan kecil untuk saya untuk meneruskan panggilan. Keadaan itu membuat saya jadi individu yang menyukai menyendiri,kurang percaya diri serta tidak PD bersama sama orang lain. Dalam saat yang bertepatan,apa sebagai pergumulan saya saat itu saya katakan ke ibu saya.

Saya mengharap saat satu waktu saya tinggalkan panggilan ini orangtua saya siap serta tidak bertanya kembali mengenai saya kenapa serta megapa. Saat saya bersharing ke ibu saya cuman 1 kalimat saja yang ia ucapkan ” Nak,jika ingin pulang silakan saja. Kami belum pernah melarangmu untuk pulang tetapi ingat itu ialah opsimu. Serta kamu tahu yang mana lebih bagus untuk kau lalui sekarang ini. Jangan mencoba memutus sesuatu pada kondisi tidak bagus “.

Pengucapan ibu saya itu membuat saya berduka. Jujur saya berduka. Bahasanya yang halus melawan saya. Saat itu saya tidak tahu ingin untuk apa. Saya bingung serta seakan hari-hari saya tidak di udar rasa,hampa serta kosong. Lebih kurang kekosongan itu saya lalui sepanjang sebulan. Saya melakukan aktivitas seperti umumnya mengajarkan,berdoa tetapi semua berasa kosong serta sepi. Saya mulai berasa tidak tenteram dengan keadaan itu. Harus saya harus berbicara dengan magistra.

Dalam satu waktu saya mendapatkan lawatan spesial dari magistra kami saat itu. Waktu ia tiba ke komune saya lagi ada di sekolah. Waktu makan siang kami berjumpa di ruangan makan. Sepanjang perjamuan itu saya berasa kok ada suatu hal yang lain dengan diriku. Saya kok mendadak dapat tersenyum serta berbicara rileks dengan beberapa orang yang ada disekitarku. Walau sebenarnya lebih kurang sebulan terasanya saya makan lem serta saya berasa semua gerak-gerik saya jadi perhatian serta jadi perhatian untuk beberapa orang spesifik..

Serta saya berasa jika transparansi serta kejujuran saya saat itu bawa karena spesial ke saya. Berkatnya adalah kedatangan magistra kami itu sudah menolong serta bawa jelas dalam lorong hidup saya yang gelap.Hingga saya dapat kembali ke jalan yang betul. Serta untuk waktu itu saya ucapkan saya selalu jadi seorang biarawati. Saya tidak menjadi pulang. Pengalaman yang terjadi awalnya biarkanlah jadi batu loncatan buat saya dihari-hari mendatang. Hidup ini tidak pernah berjalan lancar akan ada beberapa hal yang melawan diperjalanan hidup.

error: Content is protected !!