Mengejar Jiwa Aksara Hingga Negeri Pelangi Rasa


Berisik kendaraan kota. Metropolitan Jakarta ini hari, (Jumat/16/10/2020), temani saya dalam mencari tiap kelokan rahasia semesta. Sambil saya terkesima, terhipnotis serta terjerat dengan kejadian alam. Semesta alam memberi karena untuk saya dalam memburu jiwa aksara sampai negeri pelangi rasa.

Bicara rasa, pemahaman/langkah pandang tiap orang berlainan. Bergantung darimanakah dia berasal. Bila dia ialah seorang Dokter, dia akan ikut berempati atas kesengsaraan pasiennya. Dengan keinginan sang pasien segera pulih. Sesaat, rasa untuk seorang petani ialah mengucapkan syukur atas karena hujan yang membasahi seantero pertiwi ini hari.

Rasa ialah pernyataan psikis yang sebagai wakil adrenalin kebahagiaan saya ini hari. Di mana, saya ialah sisi dari beberapa ribu penulis Kompasiana yang diputuskan jadi ‘Kompasianer Opsi.’ Saya berasa terpacu untuk selalu berkreasi dalam share. Sebab saya masih terbilang muda. Saya tidak ingin melepaskan umur mudaku dengan percuma.

Beberapa ribu penulis Kompasiana, baik senior atau yunior dari dalam negeri sampai diaspora akan berasa senang serta suka dengan penghargaan ini.

Sebab penghargaan ini adalah rasa empati dari Team Kompasiana atas semua sumbangsih dari tiap penulis. Untuk saya penghargaan ini ialah momen/waktu yang pas untuk saya untuk selalu berkreasi. Saya berkreasi lewat tiap pahatan aksara. Saya tetap akan memburu jiwa aksara sampai negeri pelangi rasa.

Rasa ialah perwakilan psikis dari kebahagiaan tiap orang. Meskipun tuntunan Filsuf Plato dalam norma Nikomachea menjelaskan jika,”Arah serta penelusuran paling akhir dari manusia ialah kebahagiaan.” Entahlah kebahagiaan apakah yang divisualisasikan oleh Plato. Tetapi, untuk saya kebahagiaan itu ada pada keseharianku. Teristimewa kebahagiaan saya dipilih jadi kompasianer opsi.

Saya senang tercipta dari keluarga yang minim pengajaran, tetapi saya dapat berkreasi di dunia pahatan aksara. Jiwa aksara saya tetap akan temani pelangi. Sebab bersama aksara saya tetap akan berkembang serta berkembang jadi individu yang masak/dewasa. Dewasa ialah dari proses tiap pengalaman hidup. Sebab pengalaman ialah si guru sejati.

Saya tidak ingin melepaskan kebahagiaan ini cuman diam serta nikmati rasa sendiri. Tetapi, lewat tiap jiwa aksara ini saya share rasa. Supaya semua rasa yang tertimbun dalam landasan samudera stadion memoriku dijumpai oleh dunia.

Cukup di sini saya share rasa. Sebab adegan rasa ini hari saya titipkan ke negeri pelangi rasa kota Metropolitan.

Terima kasih seluruh Team Kompasiana.

error: Content is protected !!